Yang Kamu Tidak Tahu tentang Italia

Tahun 2019 adalah tahun tersibuk bagi kami sekeluarga. Kami melakukan empat kali perjalanan ke luar Belanda. Please don’t blame us for the carbon footprint 😁. 

Tiga di antaranya sebenarnya adalah perjalanan “numpang” karena Papa Luro menghadiri konferensi dan workshop. And he brought the whole family along. Yah, soal dana diatur-atur, lah. Pokoknya kami bisa menginap di tempat yang layak dan makan cukup setiap hari. Susah senang asal bersama, semua bisa dihadapi. Ihiy!

Waktu itu, sih, saya beralasan tidak mau ditinggal sendiri bersama dengan dua bocah cilik—Maqi belum ada—selama seminggu 😆. Ternyata, itu adalah satu-satunya kesempatan (sampai saat ini) untuk bepergian ke luar negeri karena tahun berikutnya negara api Covid menyerang dan kami harus menahan diri untuk bepergian jauh.

Surprising Italia

Tulisan ini adalah tentang perjalanan ketiga kami, yaitu ke Italia, tepatnya Roma dan Napoli. Meski semua memiliki kisah unik, perjalanan ke Italia memberikan kesan paling mendalam bagi saya. Mengapa? Karena tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah pengalaman travel yang berkesan. Enggak, deng. Karena ekspektasi saya dijungkirbalikkan oleh kenyataan yang saya temui, malah saya mendapatkan banyak kejutan selama perjalanan. 

Wow, segitunyakah?

Coba baca dulu lima hal yang mungkin kamu belum tahu dari Italia berikut. Apakah bayanganmu tentang Italia jadi berubah?

1. Mafia benar-benar ada?

Kita pasti sudah tahu, dong, kalau Italia terkenal dengan gembong mafianya alias mafioso. Namun, saya benar-benar tidak menyangka bahwa saya akan menemukan jejak mafia hanya sehari setelah menjejakkan kaki di sana! Ceritanya begini.

Waktu itu kami sedang menunggu lift stasiun di Roma bagian Utara. Saat pintu lift terbuka, ada tiga pria keluar. Salah satunya mendorong stroller model keranjang. Sampai sini tidak ada yang aneh. Di Belanda pria mendorong stroller seperti itu adalah hal biasa. tetapi saya langsung kaget bukan kepalang saat melihat plastik hitam yang menutupi keranjangnya!

Hah? Bayi ditutup plastik? Bagaimana dia bisa bernapas? Pikiran saya mulai ribut. Jangan-jangan mereka mafia! Apakah mafia di Italia benar-benar ada?

Sebagai orang asing, saya takut bereaksi berlebihan, takut mereka sebenarnya mafia seperti yang saya lihat di film 😳. Akhirnya saya cuma bisa mengikuti mereka yang dengan pandangan mata sampai pintu lift yang kami tumpangi tertutup.

Di Napoli, keheranan saya terjawab. Ternyata di Italia stroller biasa dialihfungsikan untuk membawa barang. Di lain waktu saya melihat stroller yang hanya dipakai rangkanya, mungkin karena terbukti kuat dan kokoh untuk menahan beban hidup barang.

Oke, sepertinya yang ditutup plastik hitam itu barang, bukan bayi, dan pria yang keluar dari lift bukan mafia (atau anggap saja begitu).

2. Fenomena rumah kardus

Selama tinggal di Belanda, saya tidak pernah melihat homeless people di sudut-sudut kota. Karena itu, saya membayangkan Italia sama seperti itu. Sulit bagi saya untuk memproyeksikan pemandangan khas negara berkembang di sana, mengingat Italia adalah salah satu negara Eropa yang masyhur.

Ternyata saya salah besar. Homeless people pertama yang saya temui membangun rumahnya dari kardus tepat di pelataran stasiun Roma Termini, stasiun utama kota Roma. Stasiun Gambir, lah, kalau di Jakarta. Tidak cuma satu, tetapi ada beberapa rumah kardus di sana. Sejujurnya saya syok. Bahkan di stasiun Gambir, hal tersebut tidak kita temui, kan? Ini di Roma, lo 😱!

Rumah kardus di pelataran gedung di Napoli, difoto dengan buru-buru karena takut ketahuan oleh yang punya rumah (dok. pribadi).

Hal serupa saya temui di Napoli. Homeless people menghamparkan lembaran kardus di pelataran gedung tua, tepat di sebelah Catedral de Nápoles, salah satu gereja besar di sana. Meski saat itu ada polisi yang berjaga-jaga di depan gereja, para homeless people itu dibiarkan saja. Saya jadi penasaran dengan peraturan di Italia terkait ini. 

Oh iya, fenomena sosial yang saya temui ini terdapat di Italia bagian Selatan yang memang secara ekonomi ada di bawah daerah-daerah sebelah Utara. Jadi, tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh wilayah Italia, ya.

3. Pedagang asongan ala Indonesia

Sama seperti Belanda, Italia juga kedatangan banyak imigran yang mencari perlindungan (suaka) atau semata-mata pindah demi kehidupan yang lebih baik. Hal ini terlihat jelas dari ras yang beragam, tidak hanya Kaukasian. Yang menarik, jika di Belanda, mayoritas imigran berasal dari Turki dan Maroko, di Italia kami banyak menjumpai imigran dari Bangladesh, India, dan wilayah sekitarnya—berdasarkan hasil pengamatan sotoy saya.

Ini mempengaruhi jenis pekerjaan yang dipilih. Di Belanda kami mudah menemukan kios atau restoran döner kebab milik orang-orang Turki dan supermarket Turki/Maroko. Di Italia, kami menemukan banyak … pedagang asongan dan kios kaki lima 😮! Tak lupa salesman/staf agen bus wisata yang siap mengantarkan turis berkeliling kota Roma.

Kita bisa membeli tiket bus wisata untuk berkeliling kota (kiri: di Napoli, kanan: di Roma) (dok. pribadi)

Waktu kami sedang menimbang-nimbang sebelum membeli tiket bus hop-on hop-off, kami didekati oleh pedagang yang menjajakan tongsis, kabel data, topi, dan printilan khas turis yang biasanya terlupakan. Kami juga dipepet oleh seorang salesman agar kami membeli tiket di kiosnya. Sebagai informasi, booth pembelian tiket tersebar di banyak titik. Mungkin bagi hasilnya ditentukan dari seberapa banyak tiket terjual. Pedagang asongan bahkan berseliweran di dalam stasiun, lo.

Mendapati ini semua, saya sesaat merasa seperti sedang mudik ke Indonesia, lalu tersadar karena mereka berbicara bahasa Inggris 😆.

4. Cara unik untuk membeli tiket kereta

Kereta bawah tanah yang pertama kali kami naiki di Roma membawa kami dari bagian Utara ke pusat kota. Kami membeli tiketnya lewat mesin seperti pada umumnya. Namun, belakangan kami tahu itu bukan satu-satunya cara membeli tiket di Roma.

Di salah satu stasiun kereta bawah tanah, kami sempat bingung saat hendak membeli tiket. Setelah celingak-celinguk akhirnya kami menyadari antrean orang di salah satu kios koran/majalah. Masa, beli majalah saja antri? Dari tulisan yang terpampang kami tersadar, ternyata mereka sedang antre membeli tiket kereta!

Jadi, kalau ingin naik kereta di Roma dan tidak menemukan mesin tiket, carilah kios rokok/koran/majalah dengan tulisan TICKET BUS METRO TRENI. Bisa juga dengan cara praktis: mencari antrean orang di depan kios 😁.

Di dalam kereta bawah tanah di Roma (dok. pribadi).

5. Vending machine yang tidak biasa

Waktu kami berjalan kaki dari tempat penginapan menuju stasiun kereta bawah tanah, saya menyadari satu ruangan terbuka di pinggir jalan dengan dua tabung kaca transparan berwarna hijau. Belum selesai rasa penasaran saya terjawab, saya menemukan kejutan berikutnya yang membuat tercengang: mesin kondom 😳! Vending machine ini menempel pada dinding biasa di pinggir jalan, di daerah (yang tampak seperti) perumahan. Maksudnya, di sekitarnya tidak ada etalase mencolok atau reklame yang menunjukkan hal-hal berbau klub malam atau tempat prostitusi gitu, lo.

Gara-gara membaca “Durex”, saya menyadari apa yang dijual oleh vending machine ini (dok. pribadi).

Saking terkejutnya, saya sempat memajang foto ini di Instagram story. Teman saya berkomentar bahwa mesin serupa ada di toilet laki-laki di Bandara Schipol Amsterdam—ya, maap, saya, kan, belum pernah masuk ke sana. Teman lain memberitahu bahwa di site (di Indonesia), kondom tersedia free flow. Oke ternyata saya mainnya kurang jauh.

Walau Belanda melegalkan prostitusi, rasa-rasanya sejauh saya berjalan di negara ini, saya belum pernah menemukan mesin serupa di daerah perumahan. Tidak tahu kalau di area tempat prostitusi seperti Red Light District Amsterdam. ya. Lagipula saya tidak berminat untuk mencari tahu ke sana 🙃.

Penutup

Pernah ada yang bilang bahwa traveling itu sesungguhnya membeli pengalaman. Kalau berpikir capek, ribet, dan setumpuk baju kotor sebagai oleh-oleh, sih, saya jamin kita tidak akan ke mana-mana. Apalagi jika ada pikiran, “Ah, sayang uangnya,” padahal mupeng setiap lihat pos tentang traveling di medsos.

Traveling juga tidak selamanya enak dan menyenangkan. Ada kalanya kesasar, kecopetan, beli sesuatu kemahalan, dan lainnya, tetapi justru itu yang membuat kita makin bijak dan “kaya”. Saat traveling juga jangan melulu fokus ke tempat wisata. Nikmati perjalanan menuju ke sana sebab kadang itulah yang lebih berkesan daripada tujuan kita.

Perjalanan kami ke Italia tidak hanya berisi lokasi ikonis, pizza, dan gelato—ini ada juga, sih—tetapi juga gang-gang di antara flat, taman, dan sepeda sewaan. Omong-omong soal gelato dan pizza, sepertinya menarik bila ada lanjutannya: Yang Kamu Kira Kamu Tahu dari Italia.

Gimana menurut kamu?

11 thoughts on “Yang Kamu Tidak Tahu tentang Italia”

  1. Meskipun sudah membaca untuk yang kedua kalinya, ‘kesaksian’ Mutiara yang nomer 1 tetap bikin merinding. Seketika otak ‘mengarahkan’ saya ke film ‘Godfather’, ‘Casino’, dan ‘Goodfellas’. Semuanya mengerikan ehehe, jadi membayangkan yang aneh-aneh apa isi stroller tersebut.

    Like

  2. Kl yg nomer 5, di Prancis udah umum. Biasanya di dekat apotik…
    Yg nomer 1, di daerah kami juga biasa. Perbatasan Itali mungkin ya. Tapi palingan isinya anjing sih!… Hihihi…
    Kapan ke Prancis selatan nih?… 🤗

    Like

    1. Oh gituuu.. Tapi kayaknya waktu itu di sekitarnya ga ada apotek 🤔.
      Wah, kalo di Belanda stroller anjing beda lagi. Ukurannya lebih kecil. Yang ada di cerita ini strollernya ditutup plastik hitam gitu loh, Teh. Masa isinya anjing?
      Soal jalan-jalan ke Prancis Selatan sih, mau banget doong…

      Like

  3. Pas awal-awal baca tentang mafia langsung ingat Vincenzo ni Teh hehe.
    Menarik Teh Muti, sisi lain Italia yang ga biasa

    Like

  4. udah ada bagian 2 nya belum nih?
    kalau soal vending machine, di Chiang Mai juga ada yang jual di dalam toilet pria di mall. Tapi aku tuh bingung, toh di mini market udah banyak juga yang jual, emang ada yang butuh pas lagi di toilet? wkwkwk

    Like

  5. Ikut bengong baca kisah stroller. Emang bener ya film bisa membentuk perspektif yang berbeda hahaha…
    Terima kasih teh, jadi nemu sisi lain yang ga turistik tapi tetap menarik tentang kehidupan di sana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: